Hari Ibu di Peringati Sebagai Sesuatu Yang Monumental dan Sakral



Suaragenerasibangsa.com - Hari ini,Tanggal 22 Desember kembali hadir sebagai penanda. Kalender menyebutnya Hari Ibu. Bagi sebagian orang, ini hari seremonial ucapan beredar, bunga dikirim, status media sosial bertebaran. Namun bagi saya, Hari Ibu tidak pernah terikat tanggal. Ia hadir setiap hari, setiap kali kepala menunduk, setiap kali doa dipanjatkan, setiap kali ingatan pulang ke pangkuan yang paling aman: ibu.

Hari Ibu diperingati sebagai sesuatu yang monumental dan sakral. Bangsa ini seolah diajak menundukkan kepala, bersimpuh dalam kesadaran kolektif. Tanpa upacara megah, tanpa tabur bunga. Senyap. Bahkan alam seperti ikut menahan napas. Kumbang berhenti sejenak mengisap sari bunga. Dengung lalat dan nyamuk pun menghilang. Hening menjadi bahasa paling jujur untuk menyebut nama ibu.

Ada kekuatan yang tak kasatmata pada sosok ibu. Energi magis yang tak membutuhkan otoritas, tetapi mampu membungkam segala kuasa. Di hadapan ibu, siapa pun menjadi kecil—jabatan, gelar, dan kekuasaan tak lagi relevan. Barangkali karena itulah ibu sering disebut sebagai representasi Tuhan di bumi. Tempat kasih sayang turun tanpa syarat.

Nabi Muhammad pun menegaskan hierarki cinta dan hormat itu dengan sangat jelas: ibumu, ibumu, ibumu—tiga kali—baru kemudian bapakmu. Sebuah penegasan yang lahir bukan dari retorika, melainkan dari kenyataan pahit-manis yang hanya dialami seorang ibu. Mereka yang mengandung tanpa keluh, melahirkan dengan taruhan nyawa, dan membesarkan tanpa pernah menghitung rugi.

Peradaban manusia sejak lama menjunjung ibu sebagai simbol pengorbanan. Ia diagungkan, dimuliakan, dicintai, sekaligus dijadikan rujukan nilai. Namun di balik semua pujian itu, ibu tetaplah sosok paling sunyi. Ia jarang sambat. Ia memilih diam saat lelah, memilih tersenyum saat luka. Ketabahannya sering kali tak terdokumentasi, kecuali oleh ingatan anak-anaknya.

Musik pun merekam fakta ini. Iwan Fals, dengan kejujurannya yang khas, menarasikan pengorbanan ibu tanpa romantisasi berlebihan. “Ibuku sayang, masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah, demi anak.” Sebuah lirik yang terasa kasar, namun justru di sanalah kebenarannya. Pengorbanan ibu memang tidak selalu indah, tetapi selalu nyata.

Maka, barangkali surga tidak semata berada di telapak kaki ibu sebagai metafora belaka. Ia hidup dalam setiap langkahnya, dalam darah dan luka yang disembunyikan, dalam doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Surga itu tumbuh dari ketulusan yang tak menuntut balas, dari cinta yang tak pernah meminta disebut.

Hari ini, 22 Desember, saya mengucapkan Selamat Hari Ibu. Bukan hanya kepada ibu yang melahirkan, tetapi juga kepada para ibu yang terus melahirkan harapan setiap hari, dan selamat hari ibu dari anak anakku tanpa panggung, tanpa tepuk tangan.

Penulis : Bahrusyofan Hasanudin asal Mahasiswa STIH JS

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Terkini