Haul Masyayikh dan Tasyakur Khotmil Qur’an ke-2, Kemenag Probolinggo Tegaskan Ruh Qur’ani dan Sanad Keilmuan Pesantren


Probolinggo, Suaragenerasibangsa.com  — Nuansa religius yang khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti kegiatan Dzikirul Haul Masyayikh dan Tasyakur Khotmil Qur’an Bil Hifdzi ke-2 yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lil-Qur’an, Blado Wetan, Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya perwakilan Bupati Probolinggo, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo Dr. H. Samsur, Wakil Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH. M. Balya Firjaun Barlaman, Nyai Hj. Nur Hanna Zamzami (Pengasuh PP Al-Baqarah Lirboyo Kediri), para pengasuh pondok pesantren, tokoh agama, serta wali santri.

Kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo dalam kegiatan tersebut turut didampingi oleh Kasi PD Pontren yang mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh khidmat.

Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lil-Qur’an menyampaikan pesan reflektif melalui kisah seorang lelaki tua yang menanam pohon puluhan tahun lalu. Pohon tersebut kini tumbuh besar, berbuah lebat, dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kisah tersebut menjadi perumpamaan perjuangan orang tua dalam mendidik anak. “Putra-putri yang dititipkan di pesantren memang dibimbing oleh para pengasuh, namun pahala dan keberkahan akan tetap mengalir kepada orang tua. Bahkan, kebahagiaan terbesar adalah ketika anak-anak tersebut kelak mendoakan dan menziarahi orang tuanya dengan lantunan Al-Qur’an,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. M. Balya Firjaun Barlaman, menegaskan bahwa keutamaan seseorang di sisi Rasulullah SAW tidak diukur dari kekayaan, jabatan, maupun kehebatan semata, melainkan dari seberapa banyak ia bersholawat.

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW adalah yang paling banyak bersholawat. Inilah bentuk keadilan Allah SWT sekaligus keutamaan yang harus kita amalkan,” tegasnya.

Selain itu, beliau juga menyinggung pentingnya menjaga sanad keilmuan dalam tradisi pesantren. Menurutnya, keilmuan Islam memiliki mata rantai yang jelas dan bersambung hingga kepada Rasulullah SAW, sehingga harus dijaga keberlanjutannya.

“Sanad keilmuan adalah kekuatan pesantren. Dari sanad, ilmu menjadi berkah, terjaga kemurniannya, dan tidak terputus dari sumber aslinya,” imbuhnya.

Ia juga memberikan motivasi kepada para santri penghafal Al-Qur’an agar terus istiqamah. Menurutnya, meskipun Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, namun keistimewaannya adalah tidak pernah menimbulkan rasa bosan bagi para pembacanya.

“Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca. Dengan pembiasaan, seseorang akan mampu menghafalnya dengan sendirinya. Banyak ulama terdahulu hafal Al-Qur’an karena kedekatan mereka dengan mushaf,” jelasnya.

Dalam arahannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, S.Ag., M.Pd.I, menegaskan bahwa Al-Qur’an dan pesantren merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

“Al-Qur’an dan pesantren jangan sampai terpisahkan. Ruh hakiki yang harus melekat dalam jiwa santri adalah nilai-nilai Al-Qur’an itu sendiri,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan berjiwa Qur’ani, serta mampu menjaga kemurnian ajaran Islam melalui tradisi keilmuan yang bersanad.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan lantunan dzikir yang menambah kekhusyukan suasana, sekaligus menjadi wujud rasa syukur atas capaian para santri dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Terkini

Terkini Lainnya