Probolinggo, Suaragenerasibangsa.com - Pentol merupakan jajanan favorit banyak orang,
kini bukan hanya sekadar camilan murah meriah. Jajanan berbasis bakso ini telah bertransformasi menjadi
peluang bisnis kuliner yang sangat menjanjikan. Dengan modal yang
relatif terjangkau, berbagai konsep ide jualan dari pentol menawarkan potensi
keuntungan maksimal dan waktu balik modal yang cepat.
Konsep ide jualan pentol yang sedang
tren dan terbukti menguntungkan. setiap konsep dilengkapi dengan estimasi
modal, target penjualan, hingga proyeksi laba harian. Memulai bisnis pentol
tidak hanya membutuhkan ide, tetapi juga strategi yang matang.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Eki Nur
Idyawati (44) warga Desa Kedungdalem Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo
merintis usaha kecil – kecilan dengan berdagang Pentol di Depan Sekolah Dasar
Negeri (SDN) Kedungdalem II.
Buka dari jam 08.00 – 15.00, Pentol dengan nama
Citol Bohay Sewuan ini menyajikan berbagai aneka varian sajian pentol yang
dapat dinikmati oleh pecinta kuliner dengan sensasi kuah pedas nyonyor dengan harga
yang sangat terjangkau dan tidak menguras kantong.
“Kami membuat aneka macam varian pentol
diantaranya Pentol Kriwil, Pentol Pedas, Pentol Tahu, Pentol Original, Pentol
Telor, Pentol Spongebob, Ceker dan Cecek dengan harga masing – masing varian Rp
1.000,-/biji. Jadi para pecinta pentol bisa membeli berapapun mulai dari 5.000
hingga 10.000 per porsinya,” Terang Eki yang juga sebagai Owner Laundry Bilaure
ini.
Meskipun dengan gerobak yang sangat sederhana
itu, namun Eki mampu meraup omzet ratusan ribu dari berjualan pentol selama 7
jam di depan sekolah, dan 6 jam di samping kedai es jus yang dimilikinya berada
di utara Pasar Dringu.
“Ya karena ini masih baru buka dapat 3 hari an,
Alhamdulillah bisa membawa 200 – 300 ribu dalam sehari, semoga kedepannya bisa
membawa pentol lebih banyak lagi,” Ungkap Eki, Sabtu (24/01/2026) sore.
Perjalanan membangun usaha bagi eki tidak
selalu mulus karena kondisi cuaca yang tidak menentu membuat dirinya was – was.
Selain itu, tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah kenaikan harga
bahan baku yang fleksibel.
“Harga tepung, daging, dan bumbu-bumbu sekarang
naik terus. Kita harus pintar-pintar mengatur agar tetap untung tapi harga jual
tidak terlalu mahal buat pembeli,” jelasnya.
Meski begitu, Ibu 3 anak ini tidak menyerah dan
terus berinovasi agar usahanya tetap bertahan sehingga mampu menghidupkan
perekonomian keluarga. (Septyan)
