“Satu hari penuh bisa jalan bolak-balik, tapi seringkali pulang cuma bawa lelah. Belanja untuk anak-istri pun tak bisa,” ungkap Sugeng (45), salah satu sopir bus jurusan Probolinggo–Surabaya.
Sepinya penumpang sudah berlangsung cukup lama, dan makin terasa sejak awal tahun 2025. Beberapa sopir mengaku bahkan dalam satu hari hanya mendapat dua hingga tiga orang penumpang. Kondisi ini membuat banyak dari mereka harus merogoh kantong sendiri untuk sekadar membeli solar, makan di jalan, atau memperbaiki kerusakan kendaraan.
“Kalau begini terus, kami bisa bangkrut. Sudah capek nyetir jauh, eh pulangnya malah nombok,” tambah Harno, sopir jurusan Probolinggo–Malang.
Beberapa faktor menjadi penyebab sepinya penumpang. Mulai dari makin maraknya kendaraan pribadi, meningkatnya jumlah travel ilegal yang menjemput langsung ke rumah, hingga keterbatasan fasilitas dan kenyamanan di terminal. Ditambah lagi, kondisi jalan yang macet di beberapa rute utama membuat masyarakat lebih memilih moda transportasi lain.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sopir, tapi juga kernet, petugas terminal, pedagang asongan, hingga warung-warung kecil di sekitar terminal. Terminal yang dulu menjadi pusat aktivitas dan penggerak ekonomi rakyat kecil, kini seperti mati suri.
Para sopir berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan. Minimal, ada pengawasan lebih ketat terhadap keberadaan travel liar, penataan ulang sistem trayek, dan perbaikan fasilitas terminal agar kembali menarik minat masyarakat untuk naik bus.
“Kami tidak minta macam-macam. Cuma ingin hidup layak dari pekerjaan kami yang halal. Kami juga ingin anak bisa sekolah, istri bisa masak di rumah,” kata Wahid, sopir senior dengan nada lirih.
Dalam situasi ini, peran semua pihak sangat dibutuhkan. Pemerintah, dinas perhubungan, dan juga masyarakat. Jika terminal sepi dan bus ditinggalkan, maka akan semakin banyak keluarga yang terdampak secara ekonomi. Bus-bus ini bukan sekadar kendaraan, tapi sumber penghidupan ribuan orang.
Mari dukung transportasi umum dan bantu kehidupan para sopir kita. Naik bus bukan hanya soal bepergian, tapi juga soal menjaga keberlangsungan hidup keluarga mereka.
S Rahma
Tags
Berita Probolinggo
